Selasa, 21 Oktober 2025

Learn 1 ; SABAR ADALAH OBAT PENAWAR KESULITAN

Sering kita mendengar orang di sekeliling kita mengucapkan kata sabar disaat terjadi suatu musibah dan kesusahan yang mendera. Sabar dimaknai menjadi obat penawar bagi setiap kesulitan yang dirasakan. Sabar menjadi pesan penting yang tidak ketinggalan guna menenangkan hati bagi orang yang membutuhkan perhatian dan kepedulian bagi dirinya. Hanya saja, jika itu terjadi pada diri anda tentu cerita ini akan berbeda kehendaknya. Karena bagi orang yang merasakan kesusahan, untaian kata seperti sabar tidaklah cukup baginya. Harusnya ada poin yang dilebihkan yaitu dengan menunjukkan sifat dan sikap empatik yang tinggi untuk melengkapi kebutuhan bagi siapapun yang membutuhkan.

Secara lebih mendalam, sabar merupakan manifestasi dari keimanan seseorang kepada Tuhannya. Sabar menunjukkan bukti atau tanda bahwa dirinya menerima semua ketentuan dan ketetapan dari sang Pencipta. Apakah itu meng-enakkan bagi dirinya ataupun tidak. Karena yang punya kuasa pada diri dan seluruh alam ini juga berpulang pada kehadirat-Nya. Kita sering menghitung-hitung sudah berapa banyak Tuhan sudah membantu ataupun kenapa Tuhan belum memberikan yang kita inginkan, selalu saja menjadi upaya “pembully-an kepada Tuhan”. Dengan kata lain, Tuhan menjadi sasaran empuk atas kekesalan, upatan karena tidak memihak terhadap keinginan hamba-Nya. Seyogyanya, kita harus menyadari bahwa bukan diri kita yang harus diprioritaskan terlebih dahulu, tetapi sejauhmana kita memaknai bahwa Tuhan mempunyai hak pada diri kita yang patut diberikan sekuat tenaga.

Sekarang coba direnungkan beberapa saat, mari mengukur diri dan melihat di sekililing kita. Akibat hilangnya makna kesabaran dalam hidup semakin memperparah dan memperkeruh keadaan. Lihatlah ketika kesabaran itu menjauh, konflik dalam keluarga yang sebelumnya kecil berkembang menjadi besar, candaan dan gurauan yang bergelak tawa berubah menjadi petaka permusuhan, interaksi yang berujung kompetisi menjadi sebuah persaingan yang menghalalkan segala cara, beragamnya sikap peserta didik di dalam kelas menjadi ladang pelampiasan kekesalaan dari para pendidik, anak-anak yang hingar-bingar bermain berujung pada marahan dan siksaan dari orang tuanya. Kenapa semua ini terjadi? Karena semua mengukur nilai dan evaluasi secara subjektivitas. Dengan perkataan lain, suatu standar penilain kebiasaan dan kepatutan adalah hak prerogatif pribadi.

Lebih jauh, mari kita skemakan mutiara sabar ini menjadi penolong seperti sebuah cahaya di dalam gua. Menjadi penerang dalam kegelapan, pengobat rindu bagi jiwa yang kacau, pelepas dahaga bagi mereka yang kehausan religiusitas akibat meminum air laut keegoisan. Dalam hal ini, orang tua hendaknya menyadari bahwa bermain adalah dunia anak, berlari-lari bercanda ria bukan untuk dilarang tetapi tetap sabar dalam membimbing dan mengarahkannya. Guru menjadi mediator dan fasilitator bagi peserta didiknya yang memiliki multi-sikap, multi-potensi guna membawanya pada jalur kebenaran hakiki, suami-istri menyelesaikan permasalahan keluarga dan kebahagian dengan memaknai kebutuhan bersama, interaksi sosial dilakukan menjunjung semangat dialogis yang ramah dan kebermanfaatan. Kenapa sabar bisa menjadi lampu kehidupan? Karena kita memaknainya dengan penuh kerelaan kepada keputusan Tuhan. Apapun aktivitas anda, sabar adalah teman terbaik.

Mari kita simpulkan bersama, panjang-lebar sudah diungkap dibeberap paragraf di atas. Walaupun kenyataannya masih belum cukup. Karena capaian kecukupan adalah sejauh apa kita dapat memaknai arti sabar dalam hidup. Sabar bukan barang baru yang belum kita ketahui, bukan pula kata usang yang tidak patut menghiasi bahtera hidup ini. Tuhan sudah memesankan dalam firman suci-Nya, hadapilah hidupmu dengan sabar dan shalat (pengabdian). Pesan berharga ini patut menjadi renungan penting, karena dalam menjalani kehidupan ada saja ujian yang harus diselesaikan. Ujian itu dari Tuhan, berupa kesusahan dan kenikmatan. Di kala diri kita mendapat kesusahan maka sabar dan shalat menjadi obat penyembuhnya. Dan sewaktu kenikmatan itu menjadi sebuah kesadaran yang harus kita syukuri maka Tuhan akan menambahnya lebih banyak. Besok kita akan berbicara tentang syukur, insya Allah.  

Kamis, 15 Juli 2021

KOK BISA BEDA? WARNA MATA, KULIT ORANG INDO DAN TURKI

Nenek moyang umat manusia berasal dari satu pasang manusia, yaitu adam dan hawa. Sejalan dengan perubahan waktu dan zaman, keturunan pasangan mulia ini berkembang masif dan tersebar ke seluruh penjuru bumi. Uniknya, keturunan-keturunan tersebut memiliki perawakan, warna mata, warna kulit, dan bahasa yang berbeda dan beragam. Satu hal yang perlu diyakini, bahwa keberagaman itu adalah bagian proses adaptasi manusia dengan wilayah dan komunitasnya dimana ia tinggal. Selanjutnya proses itu mendapat restu Allah sehingga terjadi banyak perbedaan antara satu dengan yang lain.

Seiring dengan itu, jika kita bandingkan antara perawakan orang indonesia dengan orang turki juga memiliki perbedaan siginifikan. Misal warna mata, umumnya orang indonesia memiliki warna mata hitam dan ada kecoklatan. Sedangkan orang turki warna matanya lebih bervariasi, ada warna biru, hijau, cokelat, dan tentu juga hitam. Begitu juga, warna rambut orang turki ada yang blond pirang, cokelat, kemerahan, dan tentu juga warna hitam sepertinya umumnya warna rambut orang indonesia.

Narasi perbandingan ini bukan ingin merendahkan antara satu dengan lain, atau meninggikan sepihak bangsa. Tulisan ini hanya ingin mempertegas bahwa kuasa Allah itu beragam, yang maha indah menciptakan makhluknya. Maka sudah menjadi keharusan rasa iri atau minder harus ditinggalkan, karena bukan berarti kita rendah dari yang lain. Begitu juga bagi yang merasa bangga atau sombong hendaknya ditanggalkan karena keindahan itu milik semua manusia.

Kesamaan dan persamaan itu tentu ada, yaitu sama-sama manusia dan ciptaan Allah. Maka tidak perlu merasa paling superior atas perawakan diri. Karena ukuran keunggulan manusia dinilai dari akhlak dan takwanya. Dan ukuran takwa itu hanya Allah saja yang punya alat ukurnya.

Pelajaran yang kita dapat hari ini, 1)Kita harus meyakini bahwa perbedaan perawakan antara satu manusia dengan yang lain adalah kuasa Allah, dan kita ridha menerimanya. 2)Bentuk perawakan yang ada melekat sekarang pada tubuh kita ini adalah yang terbaik dan terindah. Syukuri tanpa perlu merubahnya, cintailah diri sendiri maka orang lain akan mencintaimu. 3)Perbedaan itu adalah rahmat untuk saling berkenalan (lita'arafu) dan silaturahim.

Narasi video silahkan klik link di sini

Rabu, 14 Juli 2021

BERBAGI REZEKI ALA ORANG TURKI

Berbagi rezeki, sedekah dan infaq adalah suatu anjuran yang tersemat dalam ajaran Islam. Siapa yang mempunyai kelebihan rezeki bisa melaksanakan anjuran tersebut. Tentu banyak hikmah dan faedah yang dapat diambil dari anjuran tersebut. Kadang faedahnya hanya bisa dirasakan bagi si pemberi (dermawan) itu sendiri, seperti rasa senang, bahagia, dan syukur.

Membahas tentang berbagi, orang turki mempunyai cara yang unik. Saya yakin ini hanya salah satu bentuk berbagi yang saya amati dan alami. Setiap pekan, khususnya setiap hari jumat kami selalu dikagetkan bunyi bel rumah. Sesaat bergegas membuka pintu, kami tidak menemukan seorang tamu pun.

Toleh ke atas dan lihat ke bawah ternyata ada beberapa lembar uang kertas, kadang 50 lira sampai 300 lira (lira/TRY mata uang turki, boleh diconvert ke rupiah/IDR).

Sampai kisah ini dituliskan saya tidak mengetahui siapa yang memberi rezeki tersebut. Pernah sekali pas bertepatan saat ia telah menyelipkan uang kertas di bawah pintu, saya memantau siapa sih orang ini, gamam saya. Namun, karena ia memakai masker (prokes pandemi covid-19) saya tidak bisa mengenali orang tersebut. Saya lekas segera membuka pintu, dan ia dengan sigap lari ke luar.

Pelajaran yang saya dapat hari ini bahwa berbagi itu tidak perlu melihat status. Berbagi itu tidak perlu menunjukkan muka dan nama. Berbagi itu tidak perlu menampakkan identitas. Saya kira inilah yang dimaknai hikmah "saat tangan kanan memberi maka tangan kiri tidak boleh kelihatan".

Terbesit dalam hati saya, suatu saat cara ini akan saya terapkan di suatu moment dan tempat yang berbeda. Semoga

Untuk narasi video silahkan klik di sini


Minggu, 02 Mei 2021

Zaman Milenial, Apakah Serba Instan?

Kondisi zaman sekarang berbeda dengan zaman dahulu. Zaman sekarang dikenal dengan zaman milenial, di dalamnya generasi muda mengambil peran dan andil penting untuk bisa eksis menjalani kehidupan. Perkembangan zaman tersebut memiliki perbedaan bentuk atau gaya dari zaman sebelumnya. Artinya, dari perubahan waktu dan manusianya memiliki cara pandang dan sikap yang berbeda. Tentu hal ini menjadi perhatian bersama untuk selalu mengedepankan aspek toleransi (sikap hormat) satu dengan yang lain.

Perkembangan zaman hendaknya tidak menjadikan generasi tua mendikte generasi muda. Generasi tua memaksakan kehendaknya/sikapnya yang pernah dialami dahulu kepada generasi muda sekarang. Hal tersebut tentu akan membawa kesan diskriminasi, yang cenderung membawa penolakan dari generasi muda. Oleh karena itu, generasi tua harus bisa mengatur diri dan strategi agar nasihat yang diberikannya bisa memberi pengaruh bagi generasi muda. Selanjutnya, generasi muda juga tidak boleh mengabaikan nasihat dari generasi tua. Perihal ini menjadi penting karena generasi tua telah melewati berbagai tantangan dan perjalanan hidup lebih dahulu. Banyak nilai-nilai perjuangan dan pengalaman hidup yang dapat diambil untuk diterapkan di zaman sekarang.

Perkembangan zaman juga membawa tantangan. Tantangan itu baik berupa masalah ataupun peluang. Saat generasi tua dan muda mendapati masalah maka sudah selayaknya bisa menyelesaikan masalah tersebut dengan bijak. Artinya, mencari jalan keluar dengan bersama. Begitu juga saat mendapati tantangan berupa peluang. Peluang di sini dipahami sebagai tantangan, karena tidak sedikit manusia yang mengabaikan atau tidak peka saat peluang datang. Untuk itu, generasi muda dan generasi tua harus bisa bersama-sama/bersinergitas menjalani kehidupan dengan cara yang benar dan baik. Apapun nama zamanya, kapanpun, dan dimanapun kaki berpijak.

Perkembangan zaman itu membawa pengaruh yang signifikan, ada positif dan ada juga negatif. Maka perlu ada upaya filterisasi. Artinya, generasi tua dan generasi muda bisa bersama-sama menentukan kebijakan; dalam satu masyarakat atau dalam satu keluarga. Modal utama filterisasi itu adalah menyesuaikan dan mengkonfirmasi nilai atau budaya baru dengan nilai-nilai agama, norma hukum dan kebiasaan/adat-istiadat setempat. Jika itu baik maka boleh diterima, namun jika buruk maka ditinggalkan.

Perkembangan zaman memiliki kekayaan informasi. Informasi yang bisa didapat dengan mudah dan diakses dengan cepat. Kadang informasi tersebut memuat informasi yang benar, namun kadang ada yang kurang tepat (memuat hoax). Untuk itu perlu kejernihan dalam berpikir dan menyerap informasi yang ada. Generasi tua harus bisa mengimbangi generasi muda dalam menerima informasi dan perkembangan teknologi yang serba canggih. Artinya, generasi tua bisa beradaptasi dengan tepat, agar bisa turut andil mengawal generasi muda berjalan sesuai adab kebaikan.

Kadang juga kemudahan informasi dan teknologi seringkali membawa sikap serba instan. Bahkan akan muncul sikap mengabaikan perjuangan pada setiap diri manusia. Oleh karena itu, melalui kehadiran generasi tua bisa menjadi pengingat bagi generasi muda. Hal ini menjadi penting, karena keberlangsungan suatu zaman dan tatanan hidup yang baik tergantung pada generasi muda sebagai generasi penerus. 

Sabtu, 10 Agustus 2019

MEMAKNAI IDUL ADHA ; SEMANGAT TAKTIS 5 TAHUN

Oleh Dinil Abrar Sulthani, M.Pd.I

Idul Adha adalah hari raya besar bagi umat Islam. Secara khusus, umat Islam di Indonesia hari Ahad 11 Agustus/10 Dzulhijjah memperingati hari besar tersebut. Amalan yang disyariatkan agama Islam adalah shalat Idul Adha berjamaah dan menyembelih hewan qurban. Di sisi lain, bulan Dzulhijjah ini ditandai dengan pelaksanaan rukun Islam yang ke 5, yaitu berhaji ke Baitullah bagi yang mampu. Mampu dalam hal kesehatan, kekuatan fisik dan mental, serta kemampuan finansial. Semua kemampuan itu akan terjadi jika Allah menghendaki atau mengizinkannya. Sebab, kemampuan tersebut berasal dari Allah Swt. Semua tergantung keputusan Allah untuk memanggil hamba-Nya untuk datang ke Rumah-Nya. Jika Dia berkehendak apapun kondisi Hamba-Nya, berhaji menjadi hal yang tetap akan terlaksana.

Memaknai hari Idul Adha ini, marilah kita susun langkah semangat taktis dalam 5 tahun ke depan. Artinya, kita mempersiapkan program terbaik di masa depan. Memperindah akhlak prilaku diri, berinteraksi terbaik dengan keluarga dan masyarakat. Artinya, tahun-tahun kedepannya harus lebih baik dari tahun ini. Hari ini bagi yang sudah berkurban, maka tetap dipertahankan pada tahun selanjutnya. Dan bagi yang belum berkurban mudah-mudahan tahun depan bisa berkurban. Tahun ini kita masih menyaksikan dan mendoakan suadara kita yang berhaji, mudah-mudahan di masa depan kita yang dipanggil Allah untuk berhaji. Pada kesempatan yang berharga ini kita dapat memaknai Idul Adha dalam 2 amalan utama :
  
1. Komunikasi
Memperbaiki komunikasi menjadi penting untuk diamalkan selama 5 tahun ke depan. Rujukan komunikasi ini dapat kita lihat dari percakapan Nabi Ibrahim dengan Nabi Ismail pada Qs. Ash-Shaffat/37 ayat 102. Seorang ayah berbicara kepada anaknya dengan lembut dan membuka ruang diskusi. Ayah meminta pendapat dan persetujuan anaknya tentang perintah Allah yang diterimanya. Kegundahan hati ayah yang susah karena diperintah mengurbankan anak kandung sendiri yang telah lama ditunggunya. Kepenatan hati itu diredam dengan kekuatan iman dan dengan khawatir dan sabar sang ayah berbicara kepada anaknya. Bukan memaksa dan bukan memarahi anaknya, tetapi ayahnya lemah lembut menyampaikannya. Maka sang anak tertegun dengan sikap ayahnya. Ia rela dijadikan objek kurban sebagaimana perintah Allah kepada ayahnya. Kerelaan dan kesabaran itu tentu berbalut keimanan. Permintaan yang tulus dari sang ayah mendapat sambutan yang tulus dari sang anak. Ucapan yang keluar dari hati akan sampai ke hati. Itulah yang sering diucapkan Buya Hamka dalam tulisan dakwahnya.

Kita lihat kejadian sekarang yang ada di media berita; televisi dan online. Sebagai contoh: Berita pada Tribun.com pada tanggal 31 Januari 2019, Seorang Anak di Jakarta Barat Bacok Ayahnya hingga Tewas, Alasanya hanya karena Malu Ditegur. Diceritakan, si anak lagi bersama temannya sedang servis TV, mereka dalam keadaan mabok. Lalu ayahnya datang menghampiri dan menegur anaknya. Maka kejadian naas pun terjadi. Kita tidak tahu benar pola komunikasi apa yang diucapkan orang tua kepada anaknya sehingga berujung hilang nyawa. Dan berita pada Detik.com pada tanggal 1 Agustus 2019, Tak Sengaja Bacok Mati Anaknya, Ayahnya di Garut di Tahan Polisi. Kejadian ini bermula, si anak mengadu kepada ayahnya karena sedang bertengkar dengan pemuda kampung sebelah. Tak sabar ayahnya bersama si anak mendatangi pemuda tersebut. Ternyata si ayah naik pitam hendak membacok si pemuda kampung, lalu anaknya melerai, dan sabetan parang mengenai leher anaknya sendiri.

Fenomena kejadian di atas adalah akibat komunikasi yang dipakai kurang baik. Ayah dan anak haruslah mengedepankan komunikasi yang bagus. Komunikasi yang mendamaikan hati, bukan memancing kemarahan dan emosi yang tinggi. Komunikasi hendaknya disampaikan dengan sopan dan santun. Salah satu pola komunikasi hendaknya merujuk yang dipraktikkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail di atas. Dalam pikiran kita, sebenarnya Nabi Ibrahim bisa menyampaikan perintah kurban kepada anaknya dengan memaksa dan mengancam. Dan sebenarnya juga, Nabi Ismail bisa menolak permintaan ayahnya dengan membantah bahkan mengeluarkan kata sumpah serapah. Tetapi pilihan sikap mereka berbeda, komunikasi yang dipakai sangat sangat santun, saling menghargai, dan saling menyayangi.

Di dalam Alquran terdapat berbagai ungkapan untuk melakukan komunikasi yang terpuji, diantaranya: 
Pada Qs.Annisa/4 : 5: Qaulan Ma’rufa (perkataan yang baik), 
Pada Qs.Annisa/4 : 9 dan Qs.Al-Ahzab/33 : 70: Qaulan Sadida (perkataan yang jelas/benar), 
Pada Qs.Annisa/4 : 63: Qaulan Baligha (perkataan yang komunikatif),
Pada Qs.Al-Isra’/17 : 23: Qaulan Karima (perkataan yang mulia), 
Pada Qs.Al-Isra’/17 : 28: Qaulan Maysura (perkataan yang mudah), 
Dan pada Qs.Thaha/20 : 44: Qaulan Layyina (perkataan lemah lembut). 
Anjuran untuk berkomunikasi dengan orang lain: keluarga dan masyarakat, sudah terdapat perintah Allah di dalam Alquran, dan tugas kita bersama untuk secara sungguh-sungguh melaksanakannya. Berkomunikasi ini juga bentuk mengamalkan perintah hablun minannas. Perintah untuk selalu berbuat baik dengan sesama makhluk Allah Swt.

Satu poin penting lagi yang patut diperhatikan adalah kehadiran Ayah dalam diri seorang anak. Profil pertama dan idola pertama sang anak adalah ayahnya. Dari ayahnya, si anak belajar bijaksana dan ketepatan dalam mengambil keputusan, dan banyak lagi. Tetapi, banyak kita temukan masyarakat sekarang para ayah terjebak dalam rutinitas pekerjaan, sehingga tidak punya waktu lagi bermain dan bersama dengan anaknya. Bahkan sangat disayangkan, jika ada yang berpikir bahwa membimbing anak di rumah hanya tugas seorang ibu atau istrinya. Padahal membimbing dan mendidik adalah tugas bersama ayah dan ibu, pendekatan hati yang bersama. Jika ada hari ibu, maka hendaknya ada hari ayah. Mengusahakan ada satu hari penuh setiap pekan Ayah bersama anaknya, bermain dan bercerita bersama. 

2. Mandiri
Mandiri dapat diartikan mampu berbuat secara merdeka sesuai kehendak diri. Melakukan sesuatu dengan hati sendiri, bukan karena paksaan dari orang lain. Mandiri ini beririsan juga dengan sikap kesadaran. Sadar melakukan diri dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan. Semangat Idul Adha juga mengajarkan sikap mandiri. Mandiri untuk menjadi pribadi yang beramal baik. Sebagai contoh, dengan semangat kurban maka tahun depan harus bisa berkurban, melihat orang berhaji maka 15 atau 20 tahun ke depan bisa juga berhaji. Tentu semua itu harus direncanakan dengan bijak dan teliti. Maka melalui semangat taktis 5 tahun ini kita bisa mewujudkan itu semua, amin.

Marilah kita lihat kisah perjuangan saudara kita tahun ini, Berita Detik.com tanggal 17 Juli 2019, Tukang Tambal Ban Naik Haji Setalah 15 Tahun Nabung di Bawah Kasur. Menurut pengakuannya, Bapak yang berdomisili di Sidoarjo-Jawa Timur dinyatakan berhaji bersama istrinya. Begitu juga berita yang dimuat Tribun Solo pada tanggal 8 Juli 2019, Pedagang Sayur Keliling Naik Haji: Sisihkan 10 Ribu Tiap Hari Selama 8 Tahun, Ibu ini juga sudah sejak kecil menginginkan naik haji dan Alhamdulillah terwujud pada tahun ini. Kisah-kisah perjuangan senada tentu banyak bisa kita dapati, bahkan mungkin ada di daerah tempat tinggal kita. Hanya saja yang terpantau media tidak semua yang menjangkau seluruh Indonesia.

Kutipan berita di atas, sebenarnya bisa juga kita tirukan dalam keseharian kita. Melalui program taktis 5 tahun kita akan coba perjuangkan dan berdoa semoga kita bisa mendaftar diri untuk pergi haji. Dan juga kita dapat mencanangkan bisa berkurban tiap tahun atau 2-3 tahun sekali. Tentu, kita menyadari bahwa berhaji adalah hak Allah untuk memanggil hamba-Nya. Orang yang sehat badannya, cukup finansialnya, dan masih usia muda jika belum ada panggilan Allah maka tidak bisa berangkat. Namun, walaupaun, Maaf orangnya disabilitas, dana pas-pas-an harus menabung dulu, sudah sangat tua jika Allah berkehendak maka akan bisa berhaji ke Rumah Allah. Karena daya dan upaya adalah hak mutlak kuasa pemberian Allah Swt.

Mungkin, kita pernah mendengar ada orang yang bisa berangkat haji tanpa finansial, menabung tidak, dan ia mudah berangkat haji. Dapat berkah, seperti ada orang kaya yang menghajikannya atau ada sebab lain. Namun kisah berhaji yang demikian sangat sulit ditemui, bisa jadi dari 10 orang jemaah haji hanya 1 atau 2 orang saja. Yang normal dalam pandangan kita bahwa berhaji bagi yang mampu, mampu kekuatan fisik dan kesehatan, dan juga membayar biaya pendafaran dan operasional berhaji yang jaraknya jauh antara Indonesia dengan Mekkah. Oleh karena itu perlu dipersiapkan dengan bijak yaitu salah satunya dengan menabung, seperti yang dicontohkan Tukang tambal ban dan Pedagang Sayur Keliling.

Sekarang mari kita berhitung selama 5 tahun ke depan: 
Untuk Berhaji
Menabung selama 5 tahun, 5x12 bulan = 60 bulan. Anggap saja untuk mendaftar haji sebesar 35 juta/peserta. 35 juta dibagi (:) 60 bulan = 584 ribu. Agar mudah digenapkan saja dari 584 ribu menjadi 600 ribu yang harus ditabung perbulannya. 
Jika disederhanakan perpekannya 600 ribu dibagi (:) 4 pekan = 150 ribu perpekannya. Lalu jika disederhanakan lagi 1 pekan (anggap 5 hari) maka tiap harinya menabung 30 ribu. 
Insya Allah dengan menyisihkan pendapatan/gaji/honor boleh perbulan, boleh pula perpekan atau perharinya maka 5 tahun bisa daftar haji. Dan sambil menunggu masa panggilan haji yang cukup lama 15-20 tahun bisa memperbaiki diri dan memperbaiki amal ibadah.
Sebagai catatan: Program taktis 5 tahun ini hanya renungan khatib saja, jika terasa mampu finansial kita dapat mempersingkat programnnya atau jika terasa berat bisa menambah hitungan tahunnya. Misalkan menjadi 10 tahun, maka cukup dibagi 2 saja: perbulan yang 600ribu menjadi 300ribu, perpekan yang150ribu menjadi 75ribu, dan yang perhari 30hari menjadi 15ribu. Baik yang berusia tua dan muda sudah bisa merencanakan haji ke Baitullah.

Untuk Berkurban
Menabung selama 1 tahun atau 12 bulan. Anggap saja harga 1 ekor kambing 3 juta atau sapi 1/7 perorangnya bisa 3 juta pula. 3 juta dibagi (:) 12 bulan = 250 ribu. Selanjutnya, dapat kita lihat 1 bulan berjumlah 30 hari dan 31 hari, diambil saja hari efektifnya (hari kerja/hari sekolah) 25 hari/tiap bulan. Lalu jika disederhanakan 250ribu dibagi (:) 25 hari = 10ribu. Dengan demikian, perlu konsisten menabung maka setiap tahun dapat berkurban. Para pekerja, para karyawan, guru, dan ibu rumah tangga bisa berkurban. Bahkan anak yang sedang sekolah juga bisa berkurban dengan cara tersebut. Misal, 2 orang kakak beradik berkomitmen mau berkuban di tahun depan, mereka harus menyisihkan uang jajannya 5ribu setiap hari. Dan orang tua dapat memotivasi dan menanamkan makna hemat, makna berbagi dan makna beibadah. Bersama menjadi ahli ibadah. Wallahu a’lam.


(disampaikan pada Khutbah Idul Adha, 11 Agustus 2019 di Masjid Mifathul Jannah Ceger, Jakarta Timur)

Senin, 26 Februari 2018

Pengikut yang hebat

Dewasa ini banyak muncul berbagai fenomena umat Islam yang kembali menguatkan akidahnya. Sebut saja semangat kembali menegakkan nilai-nilai ketauhidan dalam bermasyarakat dan bernegara. Terlepas itu menjadi perdebatan panjang bagi mereka yang setuju dan tidak dengan aktivitas yang terjadi. Namun, setidaknya nuansa bangkitnya keislaman terasa di bumi pertiwi.

Eforia yang keliru jika aksi itu hanya sekedar ajang penampilan diri. Aksi yang hebat itu jika ia hadir dari hati yang bersih dan sadar menegakkan nilai kebaikan dan kebenaran di dalam hidupnya. Dengan begitu, maka niat yang suci dan tulus menjadi pengikut akan bernilai positif. Karena segala aktivitas yang dilakukan berlandaskan pada keyakinan untuk mendekatkan diri pada Allah SwT.

Niat menjadi pengikut hebat itu dapat dicapai dengan adanya kepemahaman yang utuh tentang suatu hal. Bukan hanya sekedar ikut-ikutan, apalagi karena terpukau dengan pemimpin sehingga membabi buta membelanya tanpa ada pengenalan lebih jauh. Artinya, yang ditekankan di sini ialah ada upaya menghindari taklid buta dan fanatik yang berlebihan tanpa ada sikap kritis. Minimal semangat kritis itu adalah upaya untuk menambah khazanah pengetahuan.


Itulah pentingnya belajar hingga akhir hayat, memiliki sikap kritis dan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap nilai dan pengetahuan agama Islam. Akhirnya, hakikat pengikut yang hebat ialah pengikut Nabi Muhammad SAW. Pengikut yang menjalankan anjuran dan sunnahnya, ini dikenal dengan istilah Ittiba’. Mencontoh dengan benar dengan pengetahuan luas dan kontemporer terhadap sikap dan perbuatan Rasulullah yang tertera dalam hadis-hadis yang maqbulah/diterima.

Keluarga Terbaik_part 2

Dalam tulisan sebelumnya disebutkan tentang upaya yang harus dilakukan untuk menggapai keluarga “samawa”. Dan pada tulisan sekarang akan diulas bahaya dan dampak ketika manusia tidak menjaga keluarganya dengan usaha terbaik. Tentu, apapun suatu hal yang tidak dipersiapkan dengan baik akan berujung pada suatu penyeselan yang akan datang dikemudian hari. Penyesalan yang mendalam itu karena tidak ada usaha memperbaiki sebelumnya.

Efek buruk yang muncul karena sikap acuh itu membahayakan bukan hanya bagi keluarga itu sendiri tetapi juga akan berdampak pada lingkungan sekitarnya. Karena, anggota yang tidak baik akan merugikan teman dan cenderung melakukan perusakan. Itu semua terjadi disebabkan tidak berjalannya proses edukasi dan pengawasan yang diperankan dalam keluarga. Secara khusus dilihat dari kepala keluarga atau kedua orang tua yang tidak mempersiapkan keluarganya menjadi keluarga sakinah.

Nihil kebermanfaatan itu hadir karena dipicu tidak ada yang mau menyadari peran sebagai anggota keluarga mengingatkan untuk dekat dengan Allah. Berbeda halnya, jika kepala keluarga dan orang tua telah mengusahakan membentuk keluarga terbaik, namun hasilnya belum maksimal maka itu perlu dimaklumkan. Artinya, usaha telah dilakukan maka itu bagian dari bentuk kepedulian menjaga keluarga dari bahaya yang berkepanjangan.

Intisari dari bahaya berkepanjangan itu ialah azab api neraka. Allah telah berpesan melalui surat cinta-Nya agar manusia berusaha kuat untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka. Usaha kuat itu dengan menjalankan perintah dan menjauhi apa yang dilarang Allah. Karena, dengan usaha seperti itulah keluarga akan selamat dari api neraka, dan itu pulalah idaman menjadi keluarga terbaik.

Keluarga Terbaik

Diketahui oleh umat Islam bahwa keluarga terbaik yaitu keluarga yang selalu mendapat doa dari banyak manusia. Ialah keluarga nabi Muhammad, yang mewariskan nilai dan keteladanan yang dapat diadopsi oleh setiap manusia yang menginginkan membentuk keluarga yang sakinah mawaddah warohmah. Keluarga rasul merupakan inspirasi yang patut ditiru guna membina anggota keluarga dengan baik.

Efek baik dalam meniru keluarga Rasul sangat perlu diusahakan. Yaitu dengan berusaha menjalankan setiap aktivitas kehidupan untuk menggapai rida Allah. Usaha yang dilakukan ialah dengan berdoa agar sakinah mawadah warohmah, yang dikenal dengan sebutan masyarakat sebagai “samawa”. Samawa bukan hanya sekedar diucapkan tetapi harus diupayakan, sebab samawa adalah proses panjang yang harus selalu diusahakan sampai akhir hayat manusia.

Netral dan optimis selalu diusung dalam keluarga Rasul. Netral dimaknai sebagai sebuah keseimbangan yang mengedepankan nilai saling terbuka dan dialogis. Optimis dilihat dari semangat beliau dalam memotivasi anggota keluarganya untuk selalu ingat dan mendekatkan diri pada Allah. Bukti keberhasilan itu terlihat pada istri-istri yang taat dan anak yang baik menyenangkan hati.

Intisari yang dapat diambil dari keteladanan keluarga Rasul diantaranya semangat dalam membina keluarga untuk selalu dalam usaha kebermanfaatan bagi orang lain. Membantu sesama dan saling mengingatkan akan kebahagian yang hakiki di akhirat. Dan ketika manusia berniat kuat untuk mengikuti perjuangan keluarga Rasul maka insya Allah itu akan mudah tercapai. Niat yang kuat itu ditopang dengan usaha dan doa pada Allah SwT.

Mengikuti jejak Ibrahim

Dalam Al-Qur’an terdapat kisah perjuangan Nabi Ibrahim As menjalankan dan menyebarkan dakwah bagi umatnya. Nabi Ibrahim juga dikenal sebagai bapak para nabi, karena banyak anak keturunan beliau yang menjadi orang saleh yang melanjutkan perjuangannya. Maka dari itu dapatlah menjadi rujukan bagi kita meniru dan meneledani sikap perjuangan dirinya dalam menjalani hidup dengan baik.

Energi hijrah yang ditorehkan beliau masih dapat terlihat sampai sekarang. Sebut saja saat beliau bersama anaknya Ismail membangun pondasi Ka’bah. Dan sekarang masih dapat disaksikan Ka’bah sebagai keberlangsungan semangat tersebut. Ka’bah menjadi pusat bersatunya titik kiblat umat Islam dan wadah bersilaturahim terbesar di dunia pada saat berhaji atau berumrah.

Nuansa berada di Ka’bah sangat syarat akan kedamaian dan ketenangan hidup. Wilayah yang dirahmati Allah dan amal ibadah sangat berasa bagi mereka yang mengharap rida Allah. Semua umat Islam tidak akan bosan untuk mengulang berkunjung ke rumah Allah. Karena itu sungguh sangat menyenangkan, namun sekali lagi kewajiban berhaji hanya satu kali yang disyariatkan.

Itulah sedikit yang diungkap dari keberhasilan Nabi Ibrahim yang masih terasa sampai sekarang. Yang lain masih banyak dapat dibaca dan dikaji melalui tafsir dan kitab-kitab sejarah Islam yang dirangkum oleh ulama dan ilmuan. Selanjutnya, jangan berhenti sampai di sini saja perlu ada penelusuran yang lebih luas, agar semakin mengenal Nabi, semoga semakin bertambah keimanan kita.

Mencintai Pemimpin_part 2

Dari tulisan sebelumnya telah diulas mengenai cinta kepada Nabi Muhammad. Sekarang untuk tulisan ini akan meneruskan korelasi kepemimpinan di masa Rasulullah dengan masa sekarang. Dalam Al-Qur’an, Rasul pernah sekali diingatkan Allah melalui surat ‘Abasa bahwa masalah pentingnya mendahulukan bagi orang yang membutuhkan hidayah daripada yang belum ada niat sama sekali. Yang ingin dilihat di sini, bahwa ketika Rasul belum paham tentang suatu tindakan maka Allah mengingatkannya.

Esensi dari kisah itu dapat ditarik pendapat bahwa pemimpin untuk masa sekarang juga tidak luput dari kekhilafan dan keselahan. Oleh sebab itu, sebagai warga negara yang baik sudah sepatutnya untuk berlaku mengingatkan jika ada pemimpin yang keliru dalam suatu kebijakannya. Cara dan proses mengingatkan ini juga perlu memperhatikan etika yang benar agar tidak ada yang tersinggung. Karena jangan sampai karena cara mengingatkan yang salah sehingga yang diingatkan tidak merespon dengan baik atas isi pesannya.

Nilai selanjutnya yang dapat diambil ialah Rasul ketika diingatkan langsung tersadar dan bergegas melaksanakan titah Allah. Jika dihubungkan dengan kepemimpinan selanjutnya hingga sekarang, sebagai pemimpin yang mendapat kritik dan masukan janganlah mudah tersinggung, marah atau malah merendahkan dirinya. Bukan itu yang diinginkan, sebab Rasul tidak seperti itu. Seharusnya, pemimpin ketika diingatkan ia berusaha segera mengevaluasi kinerjanya, mencari solusi dari permasalahan yang ada, dan berterimakasih atas saran peringatan dari rakyatnya.


Ini menandakan perlunya kesadaran yang utuh dari semua elemen masyarakat untuk menghormati para pemimpin. Karena menjadi pemimpin itu bukan perkara mudah seperti membalikkan telapak tangan, sekali lagi bukan. Pemimpin memiliki tanggungjawab besar karena ditanga-kekuasaannyalah arah kebijakan hukum berlaku ditetapkan. Selama pemimpin masih benar maka wajib mengikutinya, namun jika salah segera ingatkan untuk menyadari kesalahan dan mengevaluasi kinerjanya.

Rabu, 21 Februari 2018

Mencintai Pemimpin

Dalam hati terdapat sebuah kecendrungan untuk mencintai. Mencintai dengan sepenuh jiwa dan raga. Namun, hendaknya sebagai umat Islam cinta itu haruslah bersandarkan pada Allah dan Rasullullah. Ini dipahami sebagai bentuk ketundukan manusia pada sang pencipta. Oleh sebab itu, perlu mengutamakan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya lalu setelah itu disusul dengan yang lain. Tulisan singkat ini mengulas ringkas tentang cinta kepada Rasullullah Muhammad SAW sebagai pemimpin terbaik.

Esensi mencintai itu yang paling dasar adalah mengikuti dan menurut sesuai kehendak yang dicinta. Jadi, dengan cinta kepada Nabi Muhammad dapat dipahami bahwa kita sebagai umatnya harus mentaati beliau dan mengindahkan sunnah yang ditorehkannya. Ini memiliki dimensi yang luar biasa, karena dengan ketaatan dengan benar maka itu akan semakin memperkokoh keimanan kita, untuk selalu dekat dengan Allah SwT.

Nilai cinta kepada Nabi Muhammad tidak dapat diukur dengan harta setinggi apapun. Sebab, cinta kepada Nabi adalah bagian dari rukun iman. Iman tidak dapat diminta atau dibeli dari seorang yang saleh. Iman adalah karunia Allah bagi manusia. Maka dengan menambah cinta kepada-Nya dan Nabi Muhammad, iman itu akan semakin kuat dan bersinar. Iman adalah pelita penerang di dunia dan juga di akhirat.

Itulah pentingnya menjaga cinta kepada Nabi Muhamamd, mencintai beliau yang memimpin umatnya untuk selamat di dunia sampai di akhirat. Jika dianalogikan, bukti taat kepada beliau seluruh manusia yang beriman mau mengikuti kepemimpinannya. Maka untuk sekarang, pemimpin yang ada di suatu desa sampai negara harus pula kita indahkan hukum yang berlaku di negeri ini. Karena dengan cara itu, kita bercita-cita mewujudkan kedamaian dengan ketundukan dan kecintaan. 

Selasa, 20 Februari 2018

Usaha Berkecukupan

Dosakah menjadi kaya? Pertanyaan ini juga sederhana tetapi ada perbedaan dalam menjawabnya. Ada yang menganggap kaya itu penting, namun tanpa diketahui ada pula tidak perlu jadi kaya nanti sulit perhitungannya di hari akhir kelak. Terdengar kabar dari mulut ke mulut di warung kopi bahwa orang kaya itu sombong dan jauh dari Allah. Gampang tergila-gila dengan harta, menganggap dirinya lebih dari yang lain. Satu pertanyaan untuk mengimbangi obrolan di warung kopi itu, “Lalu mengapa Nabi Sulaiman menjadi orang terkaya di jagad raya ini? “

Ekspresi wajah susah lebih baik daripada kaya. Artinya, “tidak mengapa hidup sulit asalkan dekat dengan Allah”. Menjalankan ajaran agama dengan penuh kerendahan hati. Dan turut senang menyiapkan amalan saleh untuk tabungan pendamping di hari pembelasan kelak. Tidak perlu susah menunggu perhitungan karena harta tidak ada. Satu pertanyaan lagi, pernahkan anda melihat orang miskin tetapi berprilaku sombong, dan pernah jugakah melihat orang miskin yang mendurhakai Allah karena menganggap apa yang dialaminya tidak adil. Manusia mengatakan “sudah beribadah tetapi kenapa masih miskin, dan mereka yang tidak beribadah kenapa berkecukpan?”

Nikmat berkecukupan itu penting bahkan penting sekali, dua kali, dan seterusnya. Dengan analogi, jika hidup berkecukupan kita akan mudah membantu sesama dalam sisi materi dan sisi nasihat. Mudah menjadi pemberi bukan penerima zakat, dan jika diteruskan argumentasi lain tentu sangat banyak. Yang ingin kita maknai bersama ialah ada niat dan upaya untuk selalu hidup cukup bahkan jika perlu kaya sekalian. Tulisan ini bukan berarti menganggap bagi mereka yang berada pada posisi menengah ke bawah menjadi tersinggung. Adanya tulisan ini bertujuan menggugah diri sendiri dan yang lain mengambil peran untu hidup berkecukupan.


Ikhlas dalam berusaha menjadi salah satu cara untuk tidak terjebak dalam lembah keburukan. Berusaha tanpa curang dan merendahkan orang lain agar diri sendiri naik jabatan. Jalani sesuai keilmuan dan kesungguhan dalam beraktivitas sembari diniatkan segala sesuatu untuk ibadah kepada Allah. Usaha yang dimulai dan diakhiri menyertakan Allah di dalamnya maka usaha tersebut diharapkan menjadi rezeki yang diridai Allah. Sekarang mulailah memilih dan berjuang meningkatkan finansial dengan cara-cari yang menarik tentu yang tidak bersebrangan dengan nilai-nilai agama Islam.

Bercita-cita Takwa

Diciptakan manusia adalah untuk mengabdi. Mengabdi dalam pengertian apapun yang dilakukan adalah untuk dan karena Allah. Mulai dari dan hingga tidur kembali diniatkan untuk memaksimalkan potensi dan energi sesuai yang dituntunkan agama Islam. Menjadi umat Islam harus membuktikan dirinya adalah muslim sungguhan. Muslim sungguhan itu dapat dilihat dari pengamalan rukun Islam. Salah satunya shalat, dengan shalat itu pertanda kita muslim. Karena berbedanya umat Islam dengan non Islam yaitu satu, shalatnya.

Esensi pengamalan agama itu ialah mendekatkan diri kepada Allah. Mendekati Allah dengan mengamalkan perintah dan menjauhi larangan-Nya sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah. Pengamalan itulah yang dikenal dengan takwa. Takwa adalah predikat tertinggi di sisi Allah. Mudahkan meraih takwa? Pertanyaan itu pendek, bisa dijawab mudah dan ada pula yang menyatakan sulit. Semua itu kembali kepada niat kuat anda untuk tetap berada pada jalan yang benar. Jika itu sudah dijalani, insya Allah semoga beroleh takwa.

Niatkan selalu untuk mendapatkan predikat takwa. Karena takwa itu hanya Allah saja yang tahu. Gelar takwa itu diberikan Allah bagi manusia yang diridainya. Diridai di sini menyatakan bahwa hak diberikan atau belum diberikan gelar takwa itu tidak ada yang mengetahui. Itu perkara gaib. Manusia hanya bisa berusaha mengejarnya dan berharap. Sebab, bekal terbaik di hari akhir kelak ialah takwa. Semoga niat, usaha, dan harapan yang selalu diutarakan manusia didengarkan Allah sehingga beroleh rahmat dunia dan akhirat kelak.


Inilah pentingnya mengetahui makna takwa. Takwa yang mendatangkan banyak manfaat; melapang rejeki di dunia dan investasi di hari akhir. Takwa itu bukan hanya mementingkan diri sendiri beribadah dan mengabaikan orang lain. Bahasa sederhananya “mau masuk surga kenapa sendiri!”. Dapat dipahami, dalam mengamalkan ajaran Islam tidak ada salahnya mengajak teman terdekat untuk bersama-sama menjadi ahli ibadah. Ahli ibadah yang cerdas, mau terus belajar ilmu agama dan pandai menjaga hubungan baik dengan sesama teman-temannya. Itulah takwa, yuk bertakwa!

Upaya Kebermanfaatan

Dalam sistem tatanan masyarakat yang selalu dijunjung adalah kebersamaan untuk kedamaian. Masyarakat yang damai dan tenang itu tidak bisa dilakukan hanya sendiri-sendiri, tetapi harus ada usaha bersama untuk mengupayakannya. Maka perlu bagi setiap anggota masyarakat untuk selalu berkumpul dan berdiskusi menyepakati kegiatan apa yang dapat dilakukan demi membangun masyarakat yang ilmiah. Kegiatan yang nantinya disusun dengan mempertimbangkan aspek demokrasi, toleransi dan semangat membangun silaturahim yang lebih luas.

Etika yang selalu dipakai ialah semangat bergotong-royong. Dengan makna, bahwa sebagai anggota masyarakat harus meyakini dengan benar untuk mendapatkan jalinan tali kasih antar bertetangga ialah melalui turut berbaur dengan yang lain. Karena saudara yang paling dekat ialah tetangga, dan tetangga ini akan membantu selama kita membutuhkan pertolongan. Tolong-menolong dan bahu-membahu untuk selalu berusaha memperbaiki diri masing-masing, keluarga, dan masyarakat pada umumnya.

Nilai kebersamaan itulah yang dikenal dengan kebermanfaatan. Manusia selain sebagai makhluk individu juga makhluk sosial yang membutuhkan wadah berkreasi dan mengembangkan gagasannya. Maka di sinilah dapat diketahui, perlu ada semangat berkreasi sebagai perwujudan upaya mengembangkan diri demi kebermanfaatan bagi orang lain. Manusia akan dijadikan teman sejati jika ia mampu menjadi pribadi yang bermanfaat. Coba renungkan sejenak, apa yang terjadi jika sesama tetangga atau anggota masyarakat tidak saling mengenal, bersilaturim tentu tatanan sosial akan rusak.


Ini menjadi model yang tidak baik jika sama anggota masyarakat tidak saling memahami. Seperti, jika ada tetangga yang sedang musibah maka tetangga sebelah tidak tahu. Jalan sendiri-sendiri dan urus keluarga masing-masing adalah salah satu pemicu rusaknya tatanan dalam bermasyarakat. Oleh karena itu, penting menjadi perhatian bersama untuk selalu membuka diri, menerima lapang dada dan mau bergaul dengan anggota masyarakat. Dengan begitu, maka semangat untuk menjadikan diri sebagai pribadi kebermanfaat akan lebih mudah tercapai dan masyarakat juga akan berjaya.

Sabtu, 17 Februari 2018

Mengasihi dalam Bingkai Keimanan

Di bagian organ tubuh jika ada satu yang sakit, misal kaki terjepit pintu, maka anggota tubuh yang lain juga akan merasakan hal sakit pula, misal mata mengeluarkan air, lidah spontan bersuara. Itu mendakan tubuh adalah satu kesatuan sistem yang saling berkaitan. Tubuh itu dapat dianalogikan sebagai umat Islam. Umat Islam memiliki peran saling menjaga, melindungi, dan menyayangi antara yang satu dengan yang lain. Pada saat seseorang mendapat musibah maka umat Islam yang lain membantunya dengan sepenuh hati. Karena musibah yang diterima tersebut bukan hanya menjadi ujian untuk sendiri, tetapi juga menguji sejauhmana kita peduli membantu sesama umat Islam.

Empati penting didahulukan daripada sekedar simpati. Sebab simpati baru hanya sekedar merasakan dan turut mengamini terhadap masalah atau keluhan yang diterima saudaranya. Walaupun simpati itu sudah jauh lebih baik daripada bersikap apatis, acuh dan enggan berbaur. Tetapi hendaknya umat Islam mengambil peran yang lebih jauh lagi, yaitu berempati. Dengan pengertian, kepedihan yang dirasakan saudara kita tidak cukup hanya sekedar turut beresedih namun kita bisa memberikan sumbangsi nyata terhadap apa yang menimpanya. Sumbangsi nyata itu seperti bantuan moril; kebutuhan primernya dan juga memberikan akses solusi terhadap masalah yang dihadapi.

Nurani harus berperan dalam memberikan kasih sayang. Muncul dari hati yang bersih suka membantu, meringankan kepedihan dan kesakitan yang dirasakan temannya. Untuk itu, penting bagi kita untuk berusaha menyenangkan hati dan menghibur bagi hati yang dirundung pilu. Menjadikan diri dan sikap kita disenangi orang lain, agar orang yang melihat diri kita juga tertular pancaran kebahagian. Bukan malah sebaliknya, kita yang berpenampilan muka masam dan murung tentu tidak sedap dipandang mata. Ini mengindikasikan perlu ada upaya selalu menunjukkan rasa kasih sayang kita pada orang lain. Tentu menunjukkan itu bukan karena ingin dipuji orang lain atau membanggakan diri tetapi murni berniat ibadah kepada Allah. Sebab, senyum atau menunjukkan muka ramah adalah sebagian dari iman.   

Ikhlas dalam membantu itu baik sekali. Sebab ikhlas itu pekerjaan hati yang hanya dirinya dan Allah saja yang tahu. Ikhlas itu harus dilatih dan dibiasakan, karena godaan dan rayuan setan sangat kuat bagi manusia supaya menajauhi Allah SwT. Melalui dengan belajar ikhlas membantu sesama juga akan membiasakan diri menyadari bahwa kelebihan harta dan kesenangan adalah karunia Allah. Karunia itu tidak untuk dirinya sendiri tetapi juga ada hak orang lain mendapatkannya. Penting juga disadari bersama, pada saat teman atau sahabat mendapatkan kesenangan maka hendaknya yang lain juga turut berbahagia. Bukan malah iri dan mendengkinya. Sebab iri dan dengki merusak tatanan kasih sayang sesama umat Islam. 

Jumat, 16 Februari 2018

Semoga anda selamat

Di judul tersebut menggambarkan pentingnya mendoakan orang lain. Berdoa bagi umat Islam hanya boleh dilakukan kepada sesama muslim saja. Ini merupakan peraturan yang mutlak yang harus diketahui oleh pengamal agama. Sebab mendoakan orang yang bukan seiman itu dilarang Allah, doa yang dipintakan untuk orang lain yang tidak mengakui Allah sebagai Tuhannya. Ini menjadi pembatas antara yang Islam dengan non Islam. Bukan berarti memutus silaturahmi, sekali lagi bukan. Karena ada batasan tersendiri yang harus diketahui oleh semua pihak. Sebab doa itu bernilai ibadah, ibadah itu haruslah murni untuk Allah. Jika orang Islam mendoakan non Islam atau ia didoakan oleh non Islam maka itu terputus sebab ada pencampuran ibadah.

Etika mendoakan harus diketahui oleh semua pihak. Terlebih bagi kita yang beragama Islam. Sesama umat Islam tentu harus saling mendoakan satu dengan yang lain. Baik diketahui maupun sembunyi-sembunyi, dan keduanya dibolehkan agama. Yang kurang baik itu ialah enggan mendoakan orang lain yang seiman dengan kita. Ini patut menjadi bahan evaluasi bersama, untuk saya dan anda pernahkah menyempatkan mendokan teman, sahabat yang seiman agar bersama-sama berharap mendapat rahmat Allah. Jika telah merutinkan mendoakan temannya, tentu itu harus dijaga. Namun jika belum, setelah membaca tulisan ringkas ini mulailah mendoakan.

Nuansa indah akan dirasakan jika setiap diri saling membantu dan mendoakan. Semua akan merasa terlindungi dan dipentingkan dalam menjalani kehidupan bermasyarakat. Mendoakan agar selamat memiliki konotasi kita berusaha keras agar mendahulukan kepentingan umum dibanding kepentingan sendiri atau segelintir orang. Mendoakan agar selamat juga dipahami yaitu orang lain terlindungi dari sikap buruk kita. Tidak ada muncul rasa benci dan iri antara satu dengan yang lain. Ikhlas dalam membantu dan tulus dalam mendoakan, semoga semangat tolong-menolong dalam kebaikan tetap terbina. 

Ini perlu menjadi perhatian bersama bagi kita umat Islam, sekali lagi bahwa mendoakan hanya berlaku sesama muslim. Namun, dalam membantu dan menolong terbuka bagi semua kalangan, tidak memandang agama dan latar belakangnya. Karena Islam hadir membawa kedamaian dan menjunjung tinggi budaya toleransi, tentu selama itu masih di wilayah muamalah. Orang Islam harus mampu menghadirkan diri menjadi agen perubahan dan pemersatu sebagai bentuk perwujudan semangat rahmatan lil ‘alamin. Dengan demikian, dapatlah diketahui dengan mudah bahwa menjadi orang Islam hendaknya berusaha menjadi pribadi yang taat kepada hukum Allah dan baik kepada seluruh manusia dan alam.

Berlindung dari fitnah Dajjal

Di akhir zaman nanti dikabarkan akan datang suatu penyebab keburukan dan pertengkaran di atas dunia. Ia dikenal dengan sebutan dajjal. Dajjal itu dipahami sebagai seorang/segolongan/tantangan yang mengajak manusia untuk menjauh dari Allah. Ia akan berusaha membawa manusia mengikuti jalan sesatnya, ia berikan janji-janji palsu untuk keselamatan dan kebahagian hakiki. Padahal itu semua adalah dusta, karena janji yang pasti terjadi dan pasti ditepati hanya dari Allah saja, tidak dari yang lain. Manusia akan terbuai dengan janji palsu dajjal dan menjadikannya pemimpin yang harus diikuti semua keinginannya. Jika sudah demikian, iman yang tadi telah bersemayam pada diri akan sirna karena ia telah mengabaikan Tuhan yang Maha Benar yaitu Allah SwT.

Esensi dan fitrah manusia akan tergadai karena terpesona oleh bujuk rayu dajjal. Fitrah manusia yang beriman pada Allah berganti menjadi mempercayai dajjal sebagai Tuhan baru. Sungguh menjadi aneh jika kita merenung sejenak, sebab dahulu semasa masih di alam ruh telah diangkat kesaksian mengakui Tuhan yang patut dan wajib disembah hanya Allah saja. Ini berarti, fitrah yang melekat pada manusia adalah sifat dasar manusia mengenal Tuhan. Tapi karena hati terlena dengan ajakan dajjal, manusia pun lupa diri dan akhirnya merelakan fitrah tersebut tercerabut dari dalam diri. Itulah bahayanya fitnah dajjal di akhir-akhir zaman ini, maka sudah menjadi suatu peringatan kembali agar manusia, secara khusus umat Islam berbegang teguhlah pada tali agama Allah.

Nama pengikut dajjal akan dibacakan di akhirat kelak. Seberapa banyak daftar nama yang berhasil dibawa dajjal untuk mengingkari kehendak Allah. Sungguh merugi bagi mereka yang masuk dalam daftar tersebut. Sebab telah jelas berulang kali disebutkan dalam Al-Qur’an bahwa bagi siapa saja yang mencari Tuhan baru selain Allah maka ia telah termasuk orang yang menyekutukan-Nya. Mencari pembanding atau menduakan Allah ini termasuk perbuatan terlarang yaitu syirik. Bagi mereka yang syirik akan disediakan neraka jahanam yang menyala-nyala, yang siap membakar dajjal dan para pengikutnya.

Itulah pentingnya kita selalu berdoa kepada Allah agar terhindar dari fitnah dajjal. Karena kalau hanya dengan usaha saja maka dimungkinkan akan goyah dengan bujuk rayu dajjal. Perlu menyertakan Allah dalam setiap kehidupan. Dengan selalu berharap kepada Allah, semoga apapun yang hamba-Nya lakukan baik sekitar rumah maupun di luar rumah selalu mendapat penjagaan dari perlindungan dari sang pencipta. Jika Allah sudah berkehendak akan menjaga manusia maka itu sungguh ikatan yang terbaik, ikatan yang tidak seorangpun yang mampu memutuskannya. Atau sebaliknya, jika Allah telah berkehendak lain maka tidak seorangpun yang mampu menahan bala musibah yang ditimpakan pada manusia. Dengan demikian, selalu lah berusaha sembari berdoa mudah-mudah kita terhindar dari fitnah dajjal. 

Rabu, 14 Februari 2018

Kematian itu pasti

Dibatasinya akhir hidup manusia adalah dengan kematian. Kematian yang melepaskan jasad dan berpindah ke alam lain, alam ghaib yang tidak ada seorangpun yang dapat menerjemahkannya. Kematian itu hanya pada fisik, jiwa tetap hidup untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan selama hidup di alam dunia. Oleh sebab itu, selama nikmat hidup masih ada pergunakanlah waktu sebaik mungkin mengumpulkan amal saleh. Karena jika sudah datang kematian, maka manusia terhenti melakukan aktivitasnya. 

Edukasi yang dapat diambil dari adanya kematian yaitu menyadari bahwa akhir hidup pasti ada dan terjadi. Kapan dan dimana datangnya kematian itu hanya Allah saja yang tahu. Ini berarti bahwa manusia harus selalu mawas diri menyiapkan bekal terbaik dan menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Kematian itu jangan dipinta dan jangan dipaksa seperti berusaha mengakhiri hidup sendiri. Sikap memaksa dan malas untuk hidup sangat dibenci oleh agama Islam. Jika kematian itu akibat merusak atau membunuh diri sendiri itu adalah perbuatan zalim yang mendatangkan dosa dan keburukan.

Nama manusia akan tetap dikenang walaupun ia telah mati. Maka sebaik-baik diri hendaknya tetap menjaga nama baik, karena jika selama hidupnya baik maka ia akan dikenang dan dijadikan inspirasi oleh masyarakat. Namun, jika hidup dengan berprilaku buruk ia akan hilang dari ingatan manusia, jika pun itu diingat tentu yang terkenang hanya keburukan saja. Pilihan ada pada manusia, apakah ia memilih memperhalus budi dan takwa atau sebaliknya memilih jalan buruk dan fujur. Dengan demikian, jagalah nama baik dengan tetap berprilaku baik. 

Ingatan masih bisa dijaga selama hayat masih di kandung badan. Anda yang membaca tulisan ringkas ini tentu masih bisa mempertimbangkan dan menemukan jalan yang benar. Tidak ada jalan yang benar selain benar-benar mengamalkan ajaran agama Islam dengan sekuat tenaga. Berusaha konsisten untuk tetap di jalan kebenaran memerlukan perjuangan yang penuh dan juga disertai doa, karena perjuangan dan daya manusia diharapkan mendapat rida Ilahi. 

Selasa, 13 Februari 2018

Berlindung dari Fitnah Kehidupan

Dalam menjalani hidup ini manusia akan mengalami tantangan dan masalah sebagai ujian untuk lebih baik. Artinya, ujian itu akan menunjukkan bagi manusia siapa saja yang dapat melewati tantangan tersebut dengan baik. Tantangan ini bisa datang dari dalam diri dan bisa juga di luar diri, baik karena itu faktor menyengaja karena salah dalam bersikap maupun karena orang lain yang tidak suka/dengki terhadap capaian kinerja/posisi temannya. Sehingga membuka peluang bagi manusia yang iri menggunakan cara tidak terhormat dengan memfitnahnya. 

Etika senang melihat orang susah hendaknya dibuang jauh-jauh, karena sikap seperti itu akan merusak hati dan pikiran. Karena, bagi mereka yang iri hati hidupnya akan susah, kemana dan dimanapun selalu memikirkan temannya yang menjadi objek iri. Sehingga keirian itu akan mumucak yang dapat berakibat perusakan jiwa dan manusia setiap manusia. Sebab itu, perlu ada upaya agar manusia dapat menghindari fitnah dunia. Diantara caranya ialah shalat lima waktu, berdoa kepada Allah, dan rajin bersedekah maka insya Allah hidup manusia akan terarah. 

Niat yang baik untuk berusaha, melakukannya cara yang baik, lalu serahkan hasilnya kepada Allah. Itulah prinsp mudah bagi manusia untuk berusaha merubah diri ke arah yang lebih baik. Prinsip konsisten tersebut harus dipegang erat oleh setiap muslim. Karena seorang muslim dalam melakukan apa saja itu boleh, bisa hidup merdeka. Walaupun orang lain banyak yang tidak suka dan tidak respon terhadap usaha kita, maka biarkan saja karena Allah maha tahu. Dengan begitu, resiko mendapat fitnah dari manusia dapat diantisipasi dentan segera. 

Ikrar dan berdoalah kepada Allah, agar dikuatkan iman dan taqwa dalam menjalani kehidupan. Karena, jika dipahami tentang fitnah hidup sangat luas, mencakup ketika manusia juga melanggar kalimat Allah maka ia lebih baik untuk menyegerakan menjadi orang saleh. Fitnah itu disikapi dengan penuh pemaknaan sehingga kita dapat menentukan pilihan dan argumentasi untuk memperjuangkan nilai kebenaran. Semoga Allah membantu langkah perjuangan bagi para pejuang. 

Senin, 12 Februari 2018

Berlindung dari Azab Kubur

Di kesempatan sebelumnya telah diulas tentang bahaya neraka jahanam, maka di sini diulas tentang azab kubur sebagai tempat atau alam sebelum memasuki hari pembalasan. Azab kubur tentulah dapat dipastikan mengerikan, karena tanggungan amal baik yang dibawa lebih sedikit dibanding amal buruknya. Maka, sudah menjadi pengetahuan agama bersama bahwa setelah meninggal, yang tadinya di alam dunia berpindah ke alam kubur. Maka akan mulai dilakukan pertanyaan-tindakan yang diajukan para malaikat kepada individu manusia. 

Edukasi yang dapat ditarik dari adanya azab kubur ialah menjadi penanda bahwa setelah kehidupan di dunia ini manusia akan mengalami perjalanan panjang untuk mempertanggungjawabkan setiap amal dan aktivitas yang dilakukan. Sungguh beruntung bagi mereka yang memiliki anak-anak yang baik yang dapat mendoakan orang tuanya. Atau dapat pula bagi kalangan dewasa yang berusaha memenuhi panggilan dakwah dan perjuangan membela Islam. 

Nikmat kubur adalah antonim azab kubur yang berlaku bagi setiap manusia yang telah meninggal. Bagi manusia yang membawa bekal baik maka semoga dapat merasakan nikmat kubur yang membahagiakan. Sungguh impian yang mulia, sambil menunggu ditiupnya sangkakala oleh malaikat Isrofil, orang Islam yang beramal saleh meraskan indahnya karunia Allah. Sekali lagi, nikmat dan azab kubur dan berbagai reward atau punishment yang diberikan adalah abstark/gaib. Manusia yang adanya pengetahuan agama tersebut bisa percaya karena ia beriman kepada Allah dan hari akhir. Semoga saya dan siapa saja yang membaca tulisan ini, ayo persiapkan diri dengan bekal terbaik, badan sehat, jiwa kuat dan pikiran positif. Itulah langkah meniru semangat Nabi Muhammad dalam membela agama Allah. 

Ingatlah selalu berdoa kepada Allah, agar kita dijauhkan dari azab kubur. Berdoa yang diusahakan. Artinya, doa yang terbaik adalah doa yang diusahakan. Ada niat dan proses yang ditempuh orang Islam untuk menegakkan harapan dan pilihan hidup sesuai apa yang telah dihukumkan ajaran Islam. Jadi, hanya angan-angan jika manusia hanya berdoa tanpa melakukan usaha. Karena, takdir itu dapat diubah jika manusia berusaha sekuat tenaga, berdoa dengan keyakinan akan dikabulkan, dan berserah diri kepada Allah. Semoga kita bisa!